Kisah-kisah Ulama Betawi

November 28, 2008

SayyidUtsmanYahyaIbnAqilalAlawiOleh Alwi Shahab. Melaksanakan ibadah haji saat ini — dengan pesawat udara — hanya perlu waktu 10 jam. Tidak demikian ketika perjalanan masih menggunakan kapal layar. Perlu waktu berbulan-bulan, mungkin lebih setahun, dengan berbagai resiko selama pelayaran. Dalam suasana demikian, sejak abad ke-18 orang Betawi banyak yang pergi ke kota suci Mekah. Mereka menjalankan ibadah haji. Karena perjalanan yang begitu sulit, setelah menunaikan rukun Islam ke-5, banyak yang tidak kembali ke tanah air dan bermukim di Mekah.

Mereka yang bermukim di sana menggunakan Al Batawi sebagai nama keluarga. Menjadi kebiasaan para pemukim ketika itu menjadikan nama kota asalnya sebagai nama keluarga. Misalnya, Syech Abdul Somad al Falimbani dari Palembang, Syech Arsyad Albanjari dari Banjarmasin, Syech Basuni Imran al Sambasi dari Sambas, dan Syech Nawawi al Bantani dari Banten.

Masih dengan kapal layar, pada pertengahan abad ke-19 (1834), Syech Junaid, seorang ulama Betawi, mulai bermukim di Mekah. Ia pun memakai nama al-Betawi. Ia amat termashur karena menjadi imam di Masjidil Haram. Syech Junaid al Betawi, yang diakui sebagai syaikhul masyaikh para ulama mashab Syafi’ie, juga mengajar agama di serambi Masjidil Haram. Muridnya banyak sekali. Bukan hanya para mukiman dari Indonesia, juga mancanegara. Nama Betawi menjadi termashur di tanah suci berkat Syech kelahiran Pekojan, Jakarta Barat, ini. Read the rest of this entry »


Dua Buku Sastrawan Betawi S.M Ardan Diterbitkan Kembali

November 28, 2008

Jakarta (ANTARA News) – Kumpulan cerpen “Terang Bulan Terang di Kali, Cerita Keliling Jakarta” dan “Nyai Dasima” diterbitkan ulang untuk memperingati ulang tahun ke-75 sastrawan Betawi S.M Ardan, di Jakarta, Jumat.Pengarang yang mempunyai nama asli Syahmardan tersebut meninggal dunia pada November 2006 akibat kecelakaan lalu lintas.Rencana penerbitan kembali buku pengarang tersebut tetap dilakukan untuk menghormati sastrawan yang merintis penggunaan dialek Betawi dalam sastra Indonesia tersebut. Read the rest of this entry »


Hari-hari Akhir Si Pitung

November 28, 2008

RumahSiPitungdiMarundaJakartaUtaraoleh alwishahab. Betawi Oktober 1893. Rakyat Betawi di kampung-kampung tengah berkabung. Dari mulut ke mulut mereka mendengar si Pitung atau Bang Pitung meninggal dunia, setelah tertembak dalam pertarungan tidak seimbang dengan kompeni. Bagi warga Betawi, kematian si Pitung merupakan duka mendalam. Karena ia membela rakyat kecil yang mengalami penindasan pada masa penjajahan Belanda. Sebaliknya, bagi kompeni sebutan untuk pemerintah kolonial Belanda pada masa itu, dia dilukiskan sebagai penjahat, pengacau, perampok, dan entah apa lagi. Read the rest of this entry »


Sejarah Salah Kaprah

March 20, 2007


glodok18721.jpegFoto : Glodok 1872. Dalam sebuah keluarga bernama teater rakyat Betawi, lenong dan topeng betawi ibarat saudara kandung. Wajah mereka mirip, membuat banyak orang salah terka. Bertahun-tahun, H. Bokir, Nasir T(openg) atau Mpok Nori dianggap sebagai pentolan lenong. “Itu salah kaprah. Mereka sebenarnya orang topeng,” ucap S.M Ardan.
Read the rest of this entry »


Gambang Kromong dan Tradisi Cina Benteng

March 20, 2007

Kompas. Usianya masih belasan tahun, Ong Gian (47) sudah mengenal gambang kromong. Petani di Neglasari, Tangerang, ini termasuk salah satu pemain gambang kromong dan sering tampil dalam acara-acara pesta perkawinan masyarakat Cina Benteng Tangerang. Read the rest of this entry »


Naik Eretan Kwitang-Kalipasir

March 15, 2007

Menjelang tahun baru Imlek hujan hampir tiap hari mengguyur Ibukota. Bagi masyarakat Cina, hujan saat Imlek dianggap seperti rezeki ngocor dari langit. Tapi malapetaka akibat banjir lebih berat. Lebih-lebih mereka yang tinggal di bantaran sungai. Dari lebih 10 juta penduduk Jakarta, ratusan ribu mungkin juga lebih yang mendiami bantaran sungai. Read the rest of this entry »


Mester-Condet-Cililitan

March 15, 2007

MesterMungkin banyak yang belum tahu bahwa nama Jatinegara, sebuah kecamatan di Jakarta Timur, baru muncul pada tahun 1942. Yakni, pada awal masa pendudukan Jepang sebagai pengganti nama Meester Cornelis yang berbau Belanda. Read the rest of this entry »


Senja di Sunda Kalapa

March 15, 2007

Orang Betawi selama empat abad (12-16 Masehi) pernah menjadi rakyat Pajajaran. Pusat kotanya ada di Pakuan, sekitar Bogor sekarang. Pada masa itu orang Betawi telah berbahasa Melayu, sementara kerajaan Pajajaran berbahasa Sunda. Sejak abad ke-12 pelabuhan Kalapa dikuasai Pajajaran dan berganti nama jadi Sunda Kelapa. Read the rest of this entry »


Keturunan Portugis di Tugu

March 15, 2007

Pada tahun 1641, VOC atawa Kompeni berhasil menaklukkan Malaka, kota dagang Portugis di Malaysia, yang kala itu merupakan saingan utama Batavia. Salah satu benda peninggalan Portugis yang diboyong Belanda dari Malaka adalah ‘meriam si jagur’ — kini disimpan di Musium Sejarah DKI Jakarta, setelah selama 200 tahun pernah dikekramatkan. Read the rest of this entry »


Yang Kokoh Hingga Saat ini

March 15, 2007

Masjid Luar Batang
Berlokasi di jalan Luar Barang V, kampung Luar Batang, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara. Masjid ini dibangun pada tahun 1739 M oleh Sayid Husein Bin Abubakar di atas lahan yang dihadiahkan oleh Gubernur Jenderal VOC pada waktu itu. Pada masjid ini terdapat kentongan berukuran 140 cm dari kayu berwarna hijau dan sumur tua berdiameter 80 cm. Read the rest of this entry »