Alwi Shahab. Akhir pekan lalu di Jakarta telah dilakukan peluncuran buku Gambang Jakarta karya almarhum Firman Muntaco, maestro sastrawan Betawi tahun 1950-an dan 1960-an. Kala itu, karya-karya Firman Muntaco yang dimuat di mingguan Berita Minggu dengan judul Gambang Jakarta sangat digemari para pembaca. Tidak heran kalau mingguan itu mencapai teras ratusan ribu eksemplar berkat daya tarik tulisan Firman.
Setelah peristiwa G30S, Berita Minggu tidak terbit lagi, karena koran PNI tersebut dianggap pro kelompok kiri. Kemudian Firman menulis cerita yang sama di sejumlah harian. Salah satu judul tulisannya adalah Kongkalikong — berkisah tentang seorang kepala jawatan yang memberikan ceramah tentang korupsi dan pemberantasannya, tapi ia sendiri ternyata koruptor kelas kakap. Read the rest of this entry »
Tempo 27 Oktober 1972. Puluhan tengkorak manusia ditemukan di Jl. Kopi Jakarta kota. Diduga itu adalah tengkorak orang Cina yang dibunuh pada tahun 1740 oleh Belanda yang dikenal sebagai geger pecinan. Konon 10.000 Cina terbunuh.
Jumat, 26 Desember 2008 pukul 14:32:00 Republika. Alwi Shahab. Bagi penyuka tempat bersejarah di sejumlah kota di Tanah Air, TV One menyuguhkan acara bertajuk Riwajatmoe Doeloe. Acara berdurasi 30 menit ini tayang mulai pukul 08.00 WIB setiap hari Jumat.Program hasil garapan divisi news TV One ini merupakan sebuah petualangan seorang host bernama Anto Jadul. Ia mencari informasi tentang sejarah dari para ahlinya. Program yang dikemas secara dokumenter ini mengungkap sejarah masa lalu mengenai tempat, wilayah, ataupun kisah perjuangan, bahkan peristiwa besar yang pernah terjadi di Tanah Air.
Republika. Minggu, 04 Januari 2009.Oleh Alwi Shahab. Kini banyak peristiwa kejahatan menimpa kaum wanita. Lebih-lebih pada malam hari, kaum wanita, ketika naik taksi, sering jadi korban penodongan. Termasuk para ibu rumah tangga ketika kediamannya disatroni perampok.Karena itu, di masyarakat Betawi terdahulu tradisi ‘maen pukulan’ atau pencak silat sudah mendarah daging termasuk di kalangan kaum wanita. Mereka belajar ‘maen pukulan’ dari jurus dasar sampai jurus pamungkas.
Sabtu, 10 Januari 2009 . Oleh Alwi Shahab. Foto sekitar tahun 1867 atau 132 tahun lalu menunjukkan gardu siskamling (sistem keamanan lingkungan) di Matraman, yang kala itu merupakan perbatasan Batavia-Meester Cornelis (Jatinegara). Maklum, Batavia dan Meester Cornelis baru disatukan dalam kotapraja pada 1930-an.
Oleh Alwi Shahab. Ketika awal Januari 1808 Gubernur Jenderal Marsekal Willem Daendels mulai berkuasa di Hindia Belanda, dia menghancurkan benteng dan kastil Batavia. Termasuk di antaranya istana yang pernah ditempati 34 gubernur jenderal sebelumnya.Penghancuran ini sesuai perintah Raja Lodewijk Bonaparte, adik Kaisar Napoleon Bonaparte saat Nederland berada di bawah kekuasaan Prancis. Daendels diminta untuk memindahkan ibu kota Hindia Belanda yang kala itu berpusat di kota tua sekitar Pasar Ikan. Alasannya, daerah itu tidak sehat. Dia bisa memilih Semarang atau Surabaya. Tapi, Daendels hanya memindahkannya ke Weltevreden yang jaraknya belasan kilometer di selatan kota tua.
SAYA bangga dikupas majalah Horison (edisi Mei 2002), sehubungan dengan genap umur saya 70 tahun (pada 2 Februari 2002). Hanya dalam kata pengantarnya, redaksi (rubrik “Kakilangit”) membuka dengan “Meskipun lahir di Medan, dia memahami dan menghayati (Betawi)…Maklumlah, dia cukup lama tinggal di tengah masyarakat Betawi…”, bersama anak pertama. Lho – saya tinggal di Kwitang (Jakarta Pusat) “mulain orok”. Ayah saya Moh. Zein dari Pasar Minggu (Betawi) dan ibu saya Mursah (Bogor/ Sunda). Pada 1930 mereka ke Medan untuk kerja (ayah saya tukang potret studio).
Oleh Yayat Suratmo. Betawi punya lenong dan gambang kromong. Bagaimana jadinya jika keduanya dijadikan satu dalam pertunjukan wayang golek ? Ini dia.Demikian ungkap Tizar Purbaya, dalang Wayang Golek Betawi yang dijuluki Master Of Puppet Indonesia oleh seorang penulis Jerman. Ternyata kombinasi antara lenong, gambang kromong dan wayang golek yang dipikirkan Tizar tersebut menghasilkan seni pertunjukan baru yang menarik. Namanya,Wayang Golek Lenong Betawi.
Betawi, sejak kelahirannya 479 tahun lalu, memiliki beragam khasanah budaya. Salah satunya adalah sastra Betawi yang di daerahnya sendiri kini seolah-olah terpendam. Padahal, di mancanegara sudah lama mendapat perhatian sejumlah ilmuwan. Terbukti dengan terbitnya berbagai telaah tentang sastra Betawi masa lalu itu, yang naskah-naskahnya tersebar di berbagai perpustakaan perguruan tinggi di negara-negara maju, termasuk di Leningrad, Rusia. 